Langsung ke konten utama

Postingan

BELAS KASIH LEBIH UTAMA DARI ATURAN

Dalam Injil Lukas 14:1-6, Yesus menyembuhkan seorang penderita sakit busung air pada hari Sabat di rumah seorang pemimpin Farisi. Melalui tindakan ini, Yesus menegaskan bahwa kasih dan belas kasihan tidak boleh dibatasi oleh aturan atau tradisi keagamaan. Ia menunjukkan bahwa melakukan kebaikan dan menolong sesama adalah kehendak Allah yang sejati, bahkan di hari yang dianggap “khusus”. Dalam kehidupan kita, sering kali kita terjebak dalam rutinitas dan aturan yang membuat kita lupa pada inti ajaran Kristus, yaitu kasih. Perikop ini mengajak kita untuk berani mendahulukan kemanusiaan dan kasih dalam setiap situasi bahwa membantu orang yang menderita, kapan pun dan di mana pun, selalu lebih berharga di mata Tuhan daripada sekadar menaati aturan tanpa cinta. Merry Bidho/Mahasiswi Stipar Ende

PERJUANGAN UNTUK KETAATAN DAN KESELAMATAN

 Dalam injil 13: 24 Yesus menjawab orang Farisi yang menyuruh-Nya untuk pergi karena Herodes akan membunuh Yesus. Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!" Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Pintu yang sesak itu adalah pilihan kita untuk hidup dalam ketaatan penuh kepada Kristus, menyangkal ego, dan menanggalkan segala beban dosa yang menghalangi kita. Kita tidak bisa berharap berhasil dengan sekadar "berusaha" atau menjalani hidup biasa-biasa saja. Keselamatan menuntut seluruh hati kita. Seperti Yesus yang menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Bapa, kita pun dipanggil untuk berjuang melawan godaan, melawan arus dunia, dan melawan kemalasan rohani kita. Hanya dengan perjuangan yang tekun dan tulus, kita akan ditemukan layak untuk memasuki Rumah Bapa.   Merry Bidho/Mahasiswi Stipar Ende

BERDOA SEBELUM BERTINDAK

Dalam Injil Lukas 6:12-19, Yesus terlebih dahulu naik ke gunung untuk berdoa semalaman sebelum memilih dua belas rasul-Nya, lalu Ia turun untuk melayani banyak orang yang datang dengan segala kebutuhan dan penderitaan mereka. Dari sini kita belajar bahwa setiap keputusan dan pelayanan yang kita lakukan seharusnya berawal dari doa. Di tengah kesibukan dunia sekarang, kita sering terburu-buru bertindak tanpa meminta bimbingan Tuhan, padahal doa menolong kita untuk melihat dengan jernih dan bertindak dengan kasih. Seperti Yesus yang setelah berdoa mampu menyentuh dan menyembuhkan banyak orang, kita pun diajak untuk menjadikan doa sebagai sumber kekuatan agar bisa melayani dan membawa berkat bagi sesama di lingkungan kita sehari-hari. Merry Bidho/Mahasiswi Stipar Ende

BERTOBAT DAN BERBUAH DALAM HIDUP

Dalam Injil Lukas 13:1–9, Yesus mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk bertobat dan menghasilkan buah yang baik. Ia menceritakan tentang pohon ara yang tidak berbuah selama tiga tahun, tetapi masih diberi waktu lagi untuk dipelihara supaya bisa berbuah. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan sabar dan penuh kasih, memberi kita waktu untuk memperbaiki diri dan berubah. Namun, waktu itu tidak selamanya ada  kita dipanggil untuk menggunakan kesempatan hidup dengan bijak, bertumbuh dalam kasih, kebaikan, dan iman. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa “berbuah” lewat tindakan kecil: membantu orang lain, berkata jujur, mengampuni, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dalam setiap perkataan dan perbuatan kita.  Merry Bidho/Mahasiswi Stipar Ende

PERJUANGAN DALAM DIRI ANTARA KEINGINAN DAN KEKUATAN UNTUK MELAKUKANNYA

Dalam surat rasul paulus kepada jemaat di Roma 7:18-25a, Paulus menggambarkan pergulatan batin yang dialami setiap orang percaya, yaitu keinginan untuk melakukan yang baik, tetapi sering kali terjerat oleh dosa. Ia mengakui bahwa dalam dirinya tidak ada kebaikan, meskipun niat baik ada, namun sering kali gagal melakukannya. Pergulatan ini adalah kenyataan hidup kita: kita tahu yang benar, tetapi sering kali tidak mampu melakukannya karena kuasa dosa yang ada dalam diri kita. Namun, Paulus menemukan pengharapan dalam Yesus Kristus, yang memberi kita kemenangan atas dosa. Dalam bacaan pada hari ini ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita sering gagal, kita tidak sendirian. Dengan pertolongan Kristus, kita bisa terus berjuang melawan dosa dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Merry Bidho/Mahasiswi Stipar Ende

HIDUP DENGAN PENUH TANGGUNG JAWAB DAN KESIAPSIAGAAN

Dalam Injil  Lukas 12:39-48  Yesus mengingatkan kita     bahwa kita harus selalu siap dan hidup dengan penuh tanggung jawab, karena kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang atau kapan hidup kita berubah secara tiba-tiba. Seperti seorang hamba yang harus setia mengurus rumah tuannya meski tuannya belum pulang, kita juga dipanggil untuk setia dalam hal-hal kecil maupun besar yang dipercayakan kepada kita baik di keluarga, pekerjaan, maupun dalam pelayanan. Dalam kehidupan nyata, ini bisa berarti kita tetap jujur dan bertanggung jawab meski tidak ada yang mengawasi, dan tidak menunda-nunda berbuat baik. Tuhan melihat hati dan kesetiaan kita setiap hari, dan setiap tanggung jawab yang kita terima adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita layak dipercaya. Merry Bidho/Mahasiswi Stipar Ende

TETAP SIAP MENYAMBUT TUHAN

  Dalam injil Lukas 12:35-38 Yesus mengingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga dan siap sedia, seperti hamba yang menanti kedatangan tuannya. Kita tidak tahu kapan Tuhan datang, tapi Dia ingin menemukan kita sedang setia dan taat dalam tugas sehari-hari. Dalam hidup ini, banyak hal bisa membuat kita lengah karena kesibukan, masalah, atau kenyamanan dunia. Tapi Tuhan rindu kita tetap setia dalam hal-hal kecil: jujur dalam pekerjaan, mengasihi sesama, dan menjaga hati tetap bersih. Ketika kita hidup dalam kesiapsiagaan rohani, kita bukan hanya menyenangkan hati Tuhan, tapi juga siap menerima berkat dan sukacita yang Dia janjikan. Merry Bidho/Mahasiswi Stipar Ende