Dalam Injil Lukas 14:1-6, Yesus menyembuhkan seorang penderita sakit busung air pada hari Sabat di rumah seorang pemimpin Farisi. Melalui tindakan ini, Yesus menegaskan bahwa kasih dan belas kasihan tidak boleh dibatasi oleh aturan atau tradisi keagamaan. Ia menunjukkan bahwa melakukan kebaikan dan menolong sesama adalah kehendak Allah yang sejati, bahkan di hari yang dianggap “khusus”. Dalam kehidupan kita, sering kali kita terjebak dalam rutinitas dan aturan yang membuat kita lupa pada inti ajaran Kristus, yaitu kasih. Perikop ini mengajak kita untuk berani mendahulukan kemanusiaan dan kasih dalam setiap situasi bahwa membantu orang yang menderita, kapan pun dan di mana pun, selalu lebih berharga di mata Tuhan daripada sekadar menaati aturan tanpa cinta.
Bacaan Injil Hari Jumat, 24 Februari 2023 Matius, 9 : 14 - 15 Bacaan hari ini, tentu membuat kita terkejut dengan jawaban Yesus terhadap pertanyaan murid-murid Yohanes soal murid-murid-Nya yang tidak berpuasa padahal hari itu seharusnya berpuasa menurut hukum taurat. Menurut hukum taurat bahwa ada hari dimana yang dinamakan hari Raya perdamaian maka semua orang Yahudi harus berpuasa. ( Im. 16:29; 23: 27-32 ). Menarik dalam perikop ini dikatakan juga " Orang Farisi " ( ay. 14). Siapa itu orang Farisi, kita semua tentu tahu. Pertanyaan murid-murid Yohanes mengingatkan kita semua, bacaan yang diwartakan saat Hari Rabu Abu tentang sikap berpuasa. " Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu (Mat. 6:16-17). " Dengan kata lain dalam kaitan dengan perikop bacaan hari ini, kalau kita berpuasa janganlah kita mengatakan bahwa " saya lagi berpuasa " kenapa kamu tidak ? Jawaban Yesus pada perikop ini hendak membuka mata murid-murid Yohanes bahwa yang lebih utama d...


Komentar
Posting Komentar