Langsung ke konten utama

Postingan

LIMA TALENTA YANG DIKEMBANGKAN DENGAN BAIK

 Dalam injil Matius 25:14-30 Yesus menceritakan tentang perumpamaan talenta. Perumpamaan ini, Yesus bercerita tentang seorang tuan yang memberikan talenta kepada hamba-hambanya. Hamba yang menerima lima talenta tidak menyimpannya begitu saja, tetapi langsung berusaha dan mengembangkannya hingga menjadi sepuluh talenta. Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa setiap anugerah yang kita terima harus digunakan, bukan disembunyikan. Kita pun seperti hamba itu. Ada yang punya “lima talenta” berupa kepandaian, kekuatan, atau kesempatan besar dalam hidup. Ada juga yang hanya mendapat sedikit. Namun, yang terpenting bukanlah jumlahnya, melainkan kesetiaan kita dalam menggunakannya. Misalnya, orang yang pintar bernyanyi bisa memakai suaranya untuk memuji Tuhan dan menghibur orang lain; seorang yang rajin bekerja bisa menolong keluarganya dan membantu sesama. Kalau kita setia mengembangkan “talenta” yang Tuhan percayakan, maka hasilnya akan berlipat ganda dan membawa berkat bagi banyak orang. Yes...

TETAP SETIA PADA KEBENARAN WALAUPUN AKAN ADA RISIKO

Dalam Injil Markus 6:17-29, kita mendengar kisah Yohanes Pembaptis yang berani menegur Herodes karena hidupnya yang tidak benar. Yohanes tidak takut berkata jujur meski tahu akibatnya bisa membahayakan dirinya. Pada akhirnya, ia kehilangan nyawanya, tetapi kesetiaannya pada kebenaran tetap hidup dan menjadi teladan bagi banyak orang. Kisah ini mengingatkan kita bahwa dalam hidup sehari-hari, kita juga sering dihadapkan pada pilihan: mengikuti kebenaran atau diam karena takut. Mungkin kita tidak sampai kehilangan nyawa seperti Yohanes, tetapi berkata jujur dan hidup benar sering membuat kita tidak disukai orang lain. Namun, Yesus menghendaki agar kita tetap berani seperti Yohanes, karena kebenaran selalu membawa kita lebih dekat kepada Allah.   Merry Bidho                                                 ...

HIDUP JANGAN HANYA BAGUS DI LUAR, TAPI JUGA HARUS BERSIH DI DALAM

 Saudara/saudari yang terkasih dalam Injil Matius 23:27-32 Yesus menegur orang-orang Farisi yang hanya mementingkan penampilan luar. Mereka kelihatan baik dan suci dari luar, tapi di dalam hati penuh keburukan. Yesus menyamakan mereka seperti kuburan.  Yang hanya indah dilihat, tapi di dalamnya penuh tulang belulang. Dari sini Yesus mau mengingatkan kita, bahwa Tuhan tidak hanya melihat penampilan umat-Nya dari luar , tetapi juga isi hati yang terdalam.  Karena dalam hidup sehari-hari kita juga sering kali ingin terlihat baik di depan orang lain. Rajin ikut misa, banyak membantu, atau suka memberi nasihat. Kita lakukan itu hanya untuk dapat pujian semata. Jika kita melakukan hal baik hanya untuk dilihat atau dipuji orang, berarti kita sama halnya seperti orang Farisi.  Tuhan menghendaki kita punya hati yang tulus dan bersih, supaya apa yang kita lakukan bukan hanya untuk dilihat orang atau untuk dipuji orang,  tetapi sungguh lahir dari kasih hati yang bersih. Ma...

MULAILAH DARI HATI YANG BERSIH

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil Matius 23:23-26, Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat yang hanya sibuk mengurus hal-hal kecil seperti persepuluhan, tetapi melupakan hal yang jauh lebih penting: keadilan, belas kasih, dan kesetiaan. Mereka juga tampak bersih di luar, tetapi di dalam hatinya kotor. Yesus menegaskan bahwa yang harus dibersihkan lebih dahulu adalah bagian dalam cawan, yaitu hati manusia. Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua, jangan hanya berfokus pada penampilan luar atau kebiasaan rohani yang di indrai, tetapi juga memperhatikan hati kita. Kalau hati kita dipenuhi kasih, kejujuran, dan kepedulian, maka segala perbuatan lahiriah kita juga akan benar-benar berkenan di hadapan Tuhan. Maka marilah kita mulai dari hati yang bersih, supaya iman kita tidak hanya tampak dari luar, melainkan sungguh hidup dan nyata dalam kasih kepada sesama.                               ...

KASIH MENJADI HUKUM YANG UTAMA

     Matius 22:34-40 Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini Yesus menegaskan hukum yang paling utama yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Segala peraturan, hukum, dan ajaran iman sebenarnya berpangkal pada kasih. Tanpa kasih, semua perbuatan baik hanya akan menjadi kewajiban kosong yang tidak bermakna. Yesus mengingatkan kita bahwa hubungan dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari hubungan dengan sesama. Mengaku cinta Tuhan tetapi membenci sesama berarti kita belum sungguh memahami hukum kasih. Sebaliknya, ketika kita peduli, menolong, dan menghargai sesama, saat itu juga kita sedang mengasihi Allah yang hadir dalam diri mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk mengekspresikan kasih bukan hanya dengan kata-kata, tetapi lewat sikap nyata: menghargai keluarga, membantu yang lemah, memaafkan yang bersalah, dan menjaga persaudaraan. Dengan demikian, kasih yang kita hidupi sungguh menj...

Hidup Layak sebagai Tamu dalam Kerajaan Allah i

  Matius 22:1-14 Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang perjamuan kawin yang disiapkan raja. Banyak orang yang diundang, tetapi mereka menolak dan bahkan ada yang berlaku kasar terhadap para utusan. Akhirnya raja mengundang semua orang dari jalanan, baik yang jahat maupun yang baik, supaya ruang perjamuan penuh. Namun, ada satu orang yang tidak mengenakan pakaian pesta dan akhirnya dikeluarkan. Melalui kisah ini Yesus ingin menegaskan bahwa Allah selalu mengundang kita masuk ke dalam perjamuan kasih-Nya. Semua orang diundang, tanpa terkecuali. Tetapi undangan itu menuntut sikap yang layak, yaitu hati yang siap, iman yang hidup, dan perbuatan yang nyata. Tidak cukup hanya hadir, tetapi kita harus mengenakan “pakaian pesta,” yakni hidup yang selaras dengan kehendak Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima undangan Allah lewat doa, misa, sabda-Nya, maupun perbuatan kasih. Pertanyaannya, apakah kita siap hadir dengan hati terbuka, atau ...

Janji Hidup Kekal bagi yang Setia

  Saudara-saudari, dalam Injil Matius 19:23-30 Yesus mengingatkan bahwa orang yang terlalu terikat pada harta sulit masuk ke surga. Tetapi Yesus menegaskan, bagi Allah tidak ada yang mustahil. Keselamatan adalah rahmat dari Tuhan, bukan hasil dari harta atau kekuasaan kita. Yesus berjanji, siapa pun yang rela meninggalkan segalanya demi Dia akan menerima balasan yang berlimpah dan hidup kekal. Maka marilah kita tetap setia kepada Tuhan, tidak terlalu melekat pada harta, dan percaya pada janji-Nya yang pasti memberi kehidupan abadi. Merry Bidho Mahasiswa STIPAR ENDE